Melihat Penyimpangan Politik Masa Orde Baru dari Kaca Mata Karya Sastra

(Sebuah Studi Historiografi)

  • Sonia Nofti Hanugrah Universitas Negeri Padang
  • Etmi Hardi Universitas Negeri Padang
Keywords: Historiografi, Karya Sastra, Orde Baru, Penyimpangan Politik

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang penyimpangan politik masa Orde Baru dari perspektif karya sastra mengenai masa itu. Karya yang diteliti adalah novel Ahmad Tohari yang berjudul “Orang-orang Proyek” dan novel karya Kuntowijoyo yang berjudul “Wasripin dan Satinah”. Sebagai salah satu dari sumber sejarah, kedua novel ini mampu memberikan gambaran tentang penyimpangan politik yang terjadi masa Orde Baru. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana sebenarnya penyimpangan politik yang disorot melalui karya sastra kedua penulis yang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, di mana penelitian ini hanya membataskan diri pada bahan-bahan yang koleksi perpustakaan saja, tanpa melakukan riset ke lapangan atau wawancara. Metode yang digunakan adalah metode analisis isi. Temuan dalam penelitian ini adalah adanya kesamaan antara penyimpangan politik masa Orde Baru yang digambarkan oleh kedua karya novel ini. Tidak tertadapat perbedaan antara kedua karya novel dengan pemaparan yang terdapat dalam buku teks sejarah yang telah dibaca. Walaupun begitu, terdapat perbedaan penggambaran tentang penyimpangan politik oleh kedua karya novel ini. Karya Ahmad Tohari lebih menggambarkan penyimpangan politik yang dilakukan adalah elit politik yang berkuasa dengan memanfaatkan dan menguras dana proyek, tanpa memikirkan dampak negatif yang dialami. Kuntowijoyo lebih menggambarkan penyimpangan politik, yaitu berbagai cara yang dilakukan oleh partai politik untuk mendapatkan kekuasaan, termasuk mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah. Selain itu, juga terdapat persamaan antar kedua karya novel ini, yaitu korban yang dilakukan pihak yang berkuasa adalah rakyat kecil.

References

Aminudin. (1990). Pengantar Apresiasi Sastra. Jakarta: CV. Sinar Baru.
Bungin, B. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Emmerson, D. K. 2001. Indonesia Beyond Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Harsutejo. (2010). Kamus Kejahatan ORBA. Depok: Komunitas Bambu.
Hudaya, F., Zed, M., & Hardi, E. (2019). Tinjauan Historiografi Tentang Kekerasan di Timor Timur (1976-1999) dalam Sastra Indonesia: Saksi Mata. Galanggang Sejarah, 1(1), 118–140. https://doi.org/10.5281/zenodo.2678095
Junus, U. (1981). Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Sinar Harapan.
Kuntowijoyo. (2003). Wasripin dan Satinah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Megawati, R. (2009). Hubungan antara Sastra dan Sejarah. Retrieved September 20, 617, from Ro5it4’s Blog website: https://ro5it4.wordpress.com/2009/07/13/hubungan-antara-sastra-dan-sejarah/
Poesponegoro, M. D. & Notosusanto, N. (2008). Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.
Sudirman, A. (2014). Sejarah Lengkap Indonesia. Yogyakarta: Diva Press.
Sugihastuti. (2002). Teori Apresiasi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tohari, A. (2015). Orang-orang Proyek. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Wood, M. (2013).Sejarah Resmi Indonesia Modern: Versi Orde Baru dan Para Penentangnya. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Yanti, C. S. (2015). Religiositas Islam dalam Novel Ratu yang Bersujud Karya Amrizal Mochamad Mahdavi. Jurnal Humanika 15(3).
Zed, M. (2008). Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Published
2019-10-31
How to Cite
Hanugrah, S. N., & Hardi, E. (2019). Melihat Penyimpangan Politik Masa Orde Baru dari Kaca Mata Karya Sastra. Galanggang Sejarah, 1(3), 375-393. https://doi.org/10.5281/zenodo.3514443

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>